Dalam pengembangan kurikulum, apakah yang dimaksud dengan pendekatan "backward design"?
Dalam pengembangan kurikulum, pendekatan "backward design" atau "desain mundur" adalah metode perencanaan kurikulum yang mengutamakan pemahaman tujuan pembelajaran sebelum merancang pengalaman pembelajaran. Pendekatan ini pertama kali diperkenalkan oleh Grant Wiggins dan Jay McTighe. Adapun Prinsip utama daripada "backward design" ialah sebagai berikut.1. Menetapkan Tujuan Pembelajaran
Langkah awal dalam "backward design" adalah menentukan tujuan pembelajaran yang jelas dan spesifik. Tujuan pembelajaran ini harus menjelaskan apa yang diharapkan siswa ketahui, mengerti, dan mampu lakukan setelah menyelesaikan kurikulum.
2. Menentukan Evidensi Kinerja
2. Menentukan Evidensi Kinerja
Setelah tujuan pembelajaran ditentukan, Anda harus menentukan bagaimana akan menilai pencapaian tujuan tersebut. Ini melibatkan identifikasi evidensi kinerja atau bukti-bukti yang akan digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa mencapai tujuan pembelajaran. Evidensi ini bisa berupa ujian, proyek, tugas, atau metode penilaian lainnya.
3. Merancang Pengalaman Pembelajaran
3. Merancang Pengalaman Pembelajaran
Setelah tujuan dan evidensi kinerja ditentukan, langkah selanjutnya adalah merancang pengalaman pembelajaran siswa. Ini mencakup pemilihan materi, metode pengajaran, strategi pembelajaran, dan aktivitas yang akan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran dan menghasilkan evidensi kinerja yang sesuai.
Kesimpulan
Pendekatan "backward design" membalikkan urutan perencanaan tradisional, yang sering dimulai dengan materi atau metode pengajaran. Dalam "backward design," tujuan pembelajaran menjadi fokus utama, dan seluruh kurikulum dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Pendekatan ini memastikan bahwa semua komponen kurikulum memiliki kohesivitas dan relevansi terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dengan "backward design," pengajar dan pengembang kurikulum lebih memastikan bahwa pembelajaran memiliki makna yang jelas dan tujuan yang terukur, karena tujuan pembelajaran dan metode penilaian telah ditentukan sejak awal. Ini membantu meningkatkan efektivitas pengajaran dan pembelajaran.
Pendekatan "backward design" membalikkan urutan perencanaan tradisional, yang sering dimulai dengan materi atau metode pengajaran. Dalam "backward design," tujuan pembelajaran menjadi fokus utama, dan seluruh kurikulum dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Pendekatan ini memastikan bahwa semua komponen kurikulum memiliki kohesivitas dan relevansi terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dengan "backward design," pengajar dan pengembang kurikulum lebih memastikan bahwa pembelajaran memiliki makna yang jelas dan tujuan yang terukur, karena tujuan pembelajaran dan metode penilaian telah ditentukan sejak awal. Ini membantu meningkatkan efektivitas pengajaran dan pembelajaran.
Belum ada Komentar untuk "Dalam pengembangan kurikulum, apakah yang dimaksud dengan pendekatan "backward design"?"
Posting Komentar